Tertinggal Infrstruktur, Akses Perlintasan Warga Katiagan Pasbar Menggunakan Ponton

Kabupaten Pasaman Barat  SENIN, 14 AGUSTUS 2017 , 09:56:00 WIB | LAPORAN: PETRI SIKUMBANG

Tertinggal Infrstruktur, Akses Perlintasan Warga Katiagan Pasbar Menggunakan Ponton

Foto: Humas Sumbar

RMOL. Transportasi warga didua jorong Kenagarian Katiagan, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) sungguh miris dan memprihatinkan.

Adalah Jorong Katiagan dan Mandiangin, warga masih menggunakan ponton dengan tenaga manusia sebagai alat perlintasan aliran sungai sekitar 85 meter didaerah itu.

Nagari Katigan sebagai daerah nelayan penghasil laut kering ini,  tidak memiliki Jembatan untuk akses menghubungkan kedua jorong tersebut. Hanya dengan alat transpostasi Ponton dengan ukuran sekitar 6x5 meter itupun hanya bisa digunakan untuk melintaskan warga dan kendaraan roda dua.

Walinagari Katiagan Endang Putra mengatakan, Setiap harinya ratusan warga melakukan penyebarang dengan dikendalikan oleh tiga orang petugas ponton. Kondisi itu sudah dirasakan puluhan tahun. Sebab ponton menjadi satu-satunya pilihan untuk sampai di Mandiangin dan Katiagan. Jika hujan, air sungai besar warga tidak bisa melakukan aktivitas.

"Sebelum-sebelumnya penyeberangan menggunakan sampan, lalu pernah ada jembatan darurat yang dibangun dihilir ponton sekarang (Taluak Batiang) sepanjang 180 meter dan lebar 1,8 meter namun sudah rusak sebab hanya berlantai kayu nibung. Sekarang hanya ponton satu-satunya," ungkapnya kepada Rombongan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit saat melakukan peninjauan ke daerah Terisolir di Pasbar, Sabtu (12/08).

Kata Endang, Kenagarian Katiagan hanya terdiri dari dua jorong tersebut jumlah penduduk 8000 orang Tercatat di Jorong Mandiangin terdapat 480 KK dan Katiagan 200 KK. Hanya memiliki satu sekolah tingakat SLTP, maka setiap jadwal sekolah hampir ratusan siswa dari Mandiangin melintas dengan ponton menuju SMP 4 Kinali yang terletak di Jorong Katiagan.

"Untuk pembangunan infrastruktur pemula pihak nagari hanya memanfaatkan dana desa seadanya. Kalau dibangun dengan dana desa tidak sanggup, sekarang kami baru bisa bangun pondasi dari ujung ke ujung saja," ujar Endang.

Untuk itu, lanjutnya, warga sangat berharap bantuan dari pemkab, provinsi dan pusat agar masyarakat memiliki jembatan permanen.

Sementara Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Nasrul Abit sesampai di Katiagan setelah melakukan perjalan laut dari Dermaga Tiku pada hari sebelumnya. Wagub sempat melaksanakan pengawasan laut Sumbar dan menilik potensi laut dengan memancing ikan besar di lautan lepas.

Paginya Nasrul Abit langsung menuju Katiagan bersama rombongan. Untuk sampai di Katiagan dengan transportasi jalur laut harus menggunakan boat ukuran kecil karena melewati pecahan ombak dan aliran sungai dipenuhi hutan bakau.

Rombongan wagub dijemput oleh Camat Kinali, Kapolsek, Dandramil dan Walinagari serta beberapa orang anggota kepolisian beserta tokoh masyarakat setempat. Setalah setengah jam melewati hutan bakau akhirnya tampak pemandangan perlintasan ponton sebagai pertanda sampai di Kenagarian Katiagan.

Sebelum bertemu masyarakat, diatas ponton, Wagub Nasrul Abit ini mengungkapkan rasa prihatin dengan kondisi masyarakat di Katiagan.

"Saya benar-benar terkejut dengan kondisi ini, sebentar lagi 72 tahun Indonesia Merdeka tapi warga disini masih seperti ini kondisinya. Saya serasa balik ke tahun 70an saat melintas akan pergi ke Lampung dulu," tuturnya.

Wagub berjanji akan membicarakan persoalan itu dengan Bupati Pasaman Barat Syahiran dan melaporkan kepada Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

"Kami akan tindakaklanjuti segera, termasuk menyampaikan kepada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Agar bisa segera di perbaiki dan jelas mana saja yang bisa dibantu oleh daerah dan pusat," kata Nasrul Abit.

Ia menuturkan, Pemerintah Provinsi sebelumnya pada Jum'ata (11/8) telah melakukan Rapat koordinasi (Rakor) Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dihadiri langsung Tiga Bupati Daerah Tertinggal. Masing-masing, Kabupaten Pasaman Barat, Solok Selatan, dan Mentawai Beserta utusan dari Kementerian dihadiri Kepala Bagian Hukum Organisasi dan Tatalaksana Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes , Conrita Ermanto.

"Waktu rapat bupati juga menyampaikan soal jembatan, sambil pengawasan laut dengan kapal pengawasan saya berniat kesini saat saya disini, waduh ini benar-benar prihatin dan miris melihat secara langsung," ungkapnya.

Wagub menjelaskan Untuk keluar dari status kabupaten tertinggal saat Pasbar berada di posisi ke-33, disusul Kabupaten Solsel diurutan ke-35 dari 50 kabuapaten yang akan keluar dari status itu dan akan dievaluasi pada 2018 nanti.

"Kami akan prioritaskan agar posisi kita tidak berubah pada finishing evaluasi, sekarang baru pertengahan penilaian untuk itu, kami akan segera perbaiki indikator ketertinggalan," tutup Nasrul Abit. [pet]


Komentar Pembaca
PDIP Turun Tangan Bantu Ahok

PDIP Turun Tangan Bantu Ahok

RABU, 10 MEI 2017 , 19:03:00

Catatan Harian Gubernur Sumatera Barat

Catatan Harian Gubernur Sumatera Barat

JUM'AT, 25 AGUSTUS 2017 , 13:30:00

Peluang Investasi Sumatera Barat

Peluang Investasi Sumatera Barat

SABTU, 26 AGUSTUS 2017 , 16:03:00