Menyanyikan Indonesia Raya Dalam Versi Tiga Stanza Terkesan Kurang Kerjaan

Pendidikan  SABTU, 26 AGUSTUS 2017 , 09:05:00 WIB | LAPORAN: PETRI SIKUMBANG

Menyanyikan Indonesia Raya Dalam Versi Tiga Stanza Terkesan Kurang Kerjaan

Fadli Zon/Net

RMOL.  Wacana dan langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mewajibkan para siswa di sekolah menyanyikan kembali lagu Indonesia Raya dalam versi tiga stanza pada kesempatan-kesempatan tertentu mendapat perhatian dan kritik dari Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.

Menurutnya, wacana itu sebaiknya dikaji kembali dengan memperhatikan pendapat para sejarawan dan pendidik, tidak sepihak diwajibkan oleh pemerintah.

"Sebaiknya sebelum melontarkan wacana dan mulai mensosialisasikan kembali lagu Indonesia Raya versi lengkap tiga stanza, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengkaji secara mendalam persoalan tersebut dengan meminta pendapat para sejarawan dan tokoh pendidikan terlebih dahulu. Ini persoalan yang bisa melahirkan kontroversi. Bahkan, sepuluh tahun lalu persoalan ini pernah jadi kontroversi," ujar Fadli, Sabtu (26/8) seperti dilansir Kantor Berita RMOL.

Jika merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 44/1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dan UU Nomor 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, lagu Indonesia Raya memang bisa dinyanyikan dengan cara satu stanza atau cara tiga stanza. Kedua-duanya sama-sama dibenarkan oleh undang-undang.

"Masalahnya, selama lebih dari setengah abad, bahkan hampir dalam semua acara resmi kenegaraan sejak kita merdeka, pada praktiknya kita hanya menyanyikan lagu kebangsaan versi satu stanza saja, tak pernah lengkap tiga stanza. Sehingga, jika kini pemerintah mewajibkan para siswa di sekolah untuk menyanyikan lengkap tiga stanza, bisa muncul beberapa persoalan," ungkap Fadi.

Pertama, secara teknis ini akan memunculkan kebingungan di tengah masyarakat umum, terkait mana versi yang benar dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dari sudut legal, kedua-duanya memang dibenarkan. Tapi mewajibkan menyanyi lagu kebangsaan dengan tiga stanza akan menabrak praktik dan konvensi yang telah melembaga di tengah masyarakat selama puluhan tahun.

Kedua, kalau kita membaca kembali Pasal 60 dan 61 UU 24/2009, lagu kebangsaan kita memang diutamakan untuk dinyanyikan dengan cara satu stanza, sebab cara inilah yang pertama kali disebut dalam UU. Bahkan, ada tiga ayat yang mengatur bagaimana menyanyikan lagu kebangsaan dengan satu stanza. Adapun Pasal 61, yang membuka opsi dinyanyikan lengkap tiga stanza, posisinya hanya opsional saja, sekadar alternatif, yang ditandai oleh kata 'apabila' di awal pasal.

Sekali lagi, lanjut Fadli, tidak salah jika kita menyanyikan lengkap tiga stanza. Tapi karena secara teknis durasi menyanyikan lagu kebangsaan akan jadi lebih panjang, dari semula dua menit kemudian menjadi lebih dari empat menit, sejak dulu opsi tiga stanza ini tak pernah dikedepankan oleh undang-undang dan peraturan protokoler yang berlaku.

"Jadi, saya berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meninjau kembali edaran yang meminta siswa dan sekolah wajib menyanyikan lagu kebangsaan dalam versi lengkap tiga stanza. Kalau hanya agar siswa tahu dan hapal untuk kepentingan pelajaran sejarah atau pelajaran kesenian, saya kira tak ada masalah. Namun menjadi bermasalah jika hal itu dijadikan kewajiban, apalagi jika harus diperdengarkan dalam tiap upacara, karena hal itu bisa membingungkan, baik siswa, guru, maupun masyarakat secara umum," papar Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini.

Dari sudut pandang yang lebih luas, masih kata Fadli, kita juga harus sama-sama memahami lagu Indonesia Raya dalam perjalanan sejarahnya pernah memiliki sejumlah versi lirik dan versi menyanyikan. Dalam teks awalnya, misalnya, yang digubah oleh Wage Rudolf Supratman, tidak ada kata 'Merdeka' di dalamnya. Ada yang menyebut W.R. Supratman sengaja menyembunyikan kata 'Merdeka' itu dengan kata ganti 'Moelia', agar tak dibredel Belanda. Dan, kenyataannya kata 'Merdeka' memang baru muncul jauh kemudian. Aransemennya juga beberapa kali mengalami penyempurnaan. Tempo, dan aransemennya terakhir disempurnakan oleh Jos Cleber, atas saran-saran dari Bung Karno.

Adanya sejumlah versi itulah yang kemudian telah mendorong para pendiri Republik pada 1944 membentuk Panitia Lagu Kebangsaan. Ada Koesbini, Ki Hadjar, Yamin, Sanusi Pane, atau C. Simanjuntak di dalamnya. Sayangnya, cara orang memperdengarkan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tetap beragam. Itu sebabnya, sesudah kita merdeka, pada 1948 kemudian diterbitkan Penetapan Presiden No. 28/1948 tentang Panitia Indonesia Raya, dan sepuluh tahun kemudian diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 44/1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Tujuannya adalah untuk mengatur dan menyeragamkan cara menyanyikan lagu kebangsaan kita.

"Jadi, jangan sampai aturan baru Kementerian Pendidikan ini justru kemudian membuat praktik menyanyikan lagu kebangsaan kita menjadi beragam kembali. Itu tidak bagus," tegas Fadli.

Belum lagi, dari sudut pandang pedagogi, untuk membuat siswa hapal versi satu stanza saja kini banyak guru atau sekolah kesulitan melembagakannya, nah apalagi jika harus mendorong hapalan tiga stanza. Kementerian harus bijak dalam merancang aturan. Jangan sampai para siswa akhirnya jadi malah malas sama sekali menghapalkan lagu kebangsaan tanah airnya, akibat kebijakan yang tidak tepat.

Lagi pula, tambah Fadli, apa tujuan pemerintah mau mengembalikan tiga stanza. Kesannya jadi hanya asal beda dan seperti kurang kerjaan saja. Kalau mau membangun nasionalisme dan persatuan bukan di situ kuncinya. Perbaiki metode pengajaran sejarah dan seni budaya di sekolah-sekolah, atau ajari dan bimbing siswa untuk belajar mengapresiasi sejarah, jadi bukan hanya menghapalkannya saja.

"Lebih penting dari itu semua, pemerintah harus bisa meraih prestasi-prestasi membanggakan di berbagai bidang, mulai dari ilmu pengetahuan, olah raga, kesenian, ekonomi, atau militer, sehingga bisa tumbuh kebanggaan nasional di kalangan anak-anak kita. Itu jauh lebih efektif dalam menanamkan rasa cinta Tanah Air daripada sekadar mengubah cara menyanyikan lagu kebangsaan," demikian Fadli Zon. [pet]

Komentar Pembaca
Waspada, Gas 12 Kg Suntikan!

Waspada, Gas 12 Kg Suntikan!

KAMIS, 21 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Golkar Resmi Utus Nurul Arifin

Golkar Resmi Utus Nurul Arifin

RABU, 20 SEPTEMBER 2017 , 17:00:00

Menteri PUPR Bersihkan Danau Rawa Pening

Menteri PUPR Bersihkan Danau Rawa Pening

SABTU, 16 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

PDIP Turun Tangan Bantu Ahok

PDIP Turun Tangan Bantu Ahok

RABU, 10 MEI 2017 , 19:03:00

Catatan Harian Gubernur Sumatera Barat

Catatan Harian Gubernur Sumatera Barat

JUM'AT, 25 AGUSTUS 2017 , 13:30:00

Bintang Persahabatan

Bintang Persahabatan

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 14:40:00