Idul Adha Refleksi Calon Pemimpin Untuk Rela Berkorban

Politik  SENIN, 04 SEPTEMBER 2017 , 07:44:00 WIB | LAPORAN: PETRI SIKUMBANG

Idul Adha Refleksi Calon Pemimpin Untuk Rela Berkorban

Ilustrasi/Net

RMOL. Peringatan Idul Adha 1438 Hijriah harus menjadi refleksi bagi para calon kepala daerah untuk bisa menjadi pemimpin yang rela berkorban.

"Apakah calon kepala daerah yang akan maju dalam Pilkada 2018 mampu berkorban untuk rakyat yang makin hari hidupnya makin melarat, susah dan menderita atau malah sebaliknya justru rakyatlah yang ia korbankan untuk kepentingan elite dan kekuasaan," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin kepada wartawan di Jakarta (Minggu, 3/9).

Menurutnya, seyogyanya pemimpin adalah pelayan masyarakat. Artinya, jika seseorang diamanahi untuk menjadi pemimpin maka tugasnya adalah berkorban dan melayani rakyat yang dipimpin.

"Kita agaknya belum menemukan itu dan masih mencari pemimpin yang mau dan mampu berjuang, berkorban, dan melayani rakyatnya. Bukan pemimpin yang memperkaya diri, keluarga, kelompok, bahkan partainya. Pemimpin yang siddiq, amanah, tabligh, dan fatonah. Pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyatnya dan mampu mengangkat harkat dan martabat bangsanya," jelas Ujang.

Menurut pengamat politik Universitas Al Azhar itu, jika ingin menguji kepemimpinan seseorang maka berilah jabatan kepada orang tersebut dan kemudian lihat hasilnya.

"Jika dengan jabatan tidak berubah sikap dan karakternya maka dia termasuk pemimpin hebat. Namun jika yang terjadi sebaliknya, dengan jabatan yang disandang dia berubah dari yang baik menjadi sombong, menindas, semena-mena, berlaku kasar dan dzolim maka sesungguhnya dia bukan pemimpin yang baik," papar Ujang.

Ujang mencontohkan, kepemimpinan yang baik telah diajarkan oleh nabi, sahabat, khalifah dan orang-orang terdahulu. Bagaimana Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima anaknya di istana dengan tanpa lampu penerang, lantaran sang anak datang untuk kepentingan pribadi dan keluarga sedangkan lampu penerang dibiayai oleh negara. Sebab itu, Umar bin Abdul Aziz mematikan lampunya.

"Adakah pemimpin kita yang bersikap seperti itu. Tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, keluarga kelompok, bahkan partainya. Momentum Pilkada Serentak 2018 harus dijadikan untuk mencari dan memilih pemimpin daerah yang mau berkorban. Bukan pemimpin yang hanya mengandalkan popularitas dan elektabilitas bahkan hanya mementingkan pencitraan. Memilih pemimpin daerah yang mampu bekerja nyata untuk perbaikan nasib rakyatnya," demikian Ujang. [pet]


Komentar Pembaca
PDIP Turun Tangan Bantu Ahok

PDIP Turun Tangan Bantu Ahok

RABU, 10 MEI 2017 , 19:03:00

Catatan Harian Gubernur Sumatera Barat

Catatan Harian Gubernur Sumatera Barat

JUM'AT, 25 AGUSTUS 2017 , 13:30:00

Peluang Investasi Sumatera Barat

Peluang Investasi Sumatera Barat

SABTU, 26 AGUSTUS 2017 , 16:03:00